Agar Tak Kesepian di Era Digital Bagian 2

JALIN KOMUNIKASI

Hasil riset Crowdtap juga mengungkapkan bahwa 20% para orangtua milenial memiliki masalah dalam interaksi sosial mereka. Permasalahan yang kerap terjadi ini sedikit banyak dapat merenggangkan ikatan keluarga, terutama antara orangtua dan anak. Di era kecanggihan teknologi, komunikasi tatap muka sepertinya sudah menjadi nomor dua. Kebanyakan individu cenderung menggunakan sarana teknologi dalam berkomunikasi. Padahal dengan komunikasi dua arah atau tatap muka, selain menciptakan bonding, kita juga akan lebih bisa menggali apa yang ingin diketahui anak, apa yang ingin diceritakan, atau masalah apa yang dihadapinya.

“Penting bagi orangtua generasi milenial bahwa di dunia nyata kemampuan berkomunikasi tetap diperlukan. Dengan demikian mereka tidak hanya fokus pada kehidupan di dunia maya saja. Kitalah yang harus memulai komunikasi, terutama dengan anak, di dunia nyata. Bila hal ini seimbang, akan berimbas positif juga pada anak,” tandas Gisella. Komunikasi yang intens (tentu di dunia nyata), memungkinkan orangtua menanamkan nilai­nilai positif pada anak. Ya, di zaman apa pun kita berada, dalam hidup bermasyarakat kita harus selalu dibekali oleh nilai­nilai.

Adalah menjadi tugas orangtua untuk menjelaskan mana yang boleh dan tidak, mana yang positif dan negatif dari setiap akses teknologi yang digunakan anak. Meski terdengar klise nilainilai agama, etika, serta akhlak yang baik tetap menjadi benteng bagi pengaruh negatif yang muncul di setiap zaman. “Kelak, tanpa didampingi pun dengan nilai­nilai yang kuat, anak akan bertanggung jawab terhadap dirinya. Otomatis ada kontrol dari dalam diri yang menentukan apakah ia memilih yang baik atau buruk, yang positif atau negatif,” urai Gisella. Akhir kata, kita orangtua harus berani mengambil peran dalam membentuk karakter positif anak generasi Alfa. Tentu kita semua berharap mereka akan menjadi generasi penerus yang membawa perubahan dan kemajuan bagi bangsanya

Agar Tak Kesepian di Era Digital

Apakan Mama dan Papa ter masuk orangtua generasi milenial? adalah sebutan lain bagi The millenialsGenerasi Y, generasi awal digital native yang lahir di rentang 1977 hingga 1997. Orangtua milenial masih sempat menikmati beberapa permainan tradisional di masa kecilnya. Iya, kan? Dan sudah mulai mengenal teknologi informasi ketika beranjak dewasa. Generasi Y inilah yang melahirkan Gen-A, generasi yang lahir saat teknologi informasi sudah sedemikian masifnya. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Gen-A memiliki ciri khas. Salah satunya, mereka lahir di tengah kepungan teknologi informasi.

Karena itulah menjadi orangtua bagi Gen-A memiliki tantangan tersendiri. Gen-A dalam hitungan sebentar saja, dapat menguasai teknologi canggih. Semakin disodori gadget, tentu mereka akan semakin senang. Inilah yang juga perlu dikritisi. Jangan sampai gadget menjadi “perwakilan” orangtua dalam mengasuh anak. Di saat kita sibuk, enggak mau diganggu anak, si kecil langsung kita sodori gadget. Atau kalau anak rewel, obat penawarnya adalah film kartun yang di-download di smartphone. Ini bukan solusi yang baik. Dikhawatirkan, akses informasi yang demikian terbuka memudahkan anak untuk membuka konten apa saja. Meski telah diupayakan pemblokiran, selalu saja ada celah untuk bisa masuk ke area terlarang, misalnya pornografi.

Baca Juga : Kursus IELTS Jakarta

PERLU KONSISTEN

Psikolog Gisella Tani Pratiwi melihat kelekatan Gen-A pada teknologi informasi ini sebagai dua sisi mata koin, bisa menjadi sisi positif dan negatif. “ Sepanjang ada pengawasan dari orangtua, banyak hal positif yang bisa kita manfaatkan dari teknologi ini, ” ujarnya. Menurut Gisella, orangtua milenial harus konsisten dalam menerapkan rambu-rambu pemakaian gawai pada anak Gen-A. “Kalau usianya masih 2 tahun ke bawah, saya setuju sekali untuk tidak dikenalkan dengan gadget. Jangan sampai anak jadi tidak tertarik di luar yang elektronik. Karenanya, stimulasi lain harus ada. Kalaupun anak sudah lebih besar, orangtua juga jangan cuma menyodorkan gadget, lalu anak ditinggal. Perlu ada pedampingan pada anak dalam menggunakan sarana teknologi. Sekali lagi, jangan langsung memberikan sebagai alternatif pengasuhan. Kalau anak sedang bosan, doronglah untuk melakukan hal-hal kreatif yang bisa ia lakukan sendiri.”

DORONG SOSIALISASINYA

Salah satu poin penting dalam pengasuhan anak di era digital adalah mendorong anak untuk terus bersosialisasi di dunia nyata. Sebuah penelitian menyebutkan, Gen-A yang melek digital dan teknologi, diklaim lebih pintar dan cerdas dalam bidang akademis dan proses kreatif. Tetapi, anak-anak Gen-A diprediksi mengalami masalah kesepian lantaran jumlah saudaranya lebih sedikit, lebih banyak berinteraksi melalui teknologi, cenderung cuek bahkan bisa mengarah ke antisosial. “Itu sebabnya, anak perlu dihindari dari perilaku terpaku hanya pada gadget. Saya menyarankan, untuk usia balita, janganlah dulu diperkenalkan dengan internet. Tapi memang agak sulit karena sekarang ini malah anak-anak balita senangnya nonton YouTube.

Televisi sudah tidak diandalkan lagi. Solusinya, ya, ketika anak sudah mulai mengonsumsi internet, beri contoh penggunaan yang bijak. Yang jelas, porsinya harus seimbang dengan kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya non-elektronik,” saran Gisella. Psikolog ini menyarankan orangtua agar anak-anak Gen-A didorong untukmelakukan sosialisasi sederhana. Misalnya, bermain dengan anak tetangga, berkunjung ke rumah saudara, menginap di rumah sepupu, dan sebagainya. Sosialisasi di dunia nyata punya manfaat, setidaknya mengurangi kemungkinan anak terpapar intimidasi orang dewasa di internet. Menurut survei ini, anak-anak dan remaja memang menjadi sasaran empuk kejahatan online. “Makanya, sangat tidak bijak hanya membiarkan anak melulu di depan komputer atau gadget. Mereka justru harus didorong untuk beraktivitas lain, seperti bermain di luar, atau bersosialisasi dengan teman.”

Mengasah kemampun bersosialisasi juga sekaligus mengasah emosinya. Misalnya, bagaimana bersikap ketika menghadapi teman yang jahil. Bersosialisasi juga mengurangi anak untuk tidak terlalu banyak berkutat dengan teknologi sehingga aktivitasnya jadi seimbang. Bila memungkinkan, libatkan Gen­A pada suatu komunitas kegiatan sehingga semua kemampuannya terasah baik komunikasi, sosialisasi, dan emosi.

Mood Swing Pasca Melahirkan

Pascamelahirkan, Mama juga akan mengalami mood swing atau perubahan suasana hati. Penyebabnya banyak, di antaranya: perubahan hormon, rasa tidak nyaman yang masih Mama rasakan akibat persalinan, kurang tidur, beragam tuntutan lain dari bayi Mama, serta penyesuaian emosi karena sekarang Mama sudah menjadi seorang ibu. Apa pun penyebabnya, wajar jika Mama merasa sedikit sedih, yang biasanya dimulai beberapa hari setelah melahirkan dan terus berlangsung selama beberapa minggu.

Jika rasa itu tak kunjung hilang dengan sendirinya di minggu-minggu pertama atau Mama mendapati bahwa Mama merasa semakin buruk daripada semakin baik, jangan segan untuk menghubungi dokter atau bidan, ya, Ma. Katakan kepada mereka dengan jelas mengenai gejala yang Mama rasakan dan alami. Mama mungkin mengalami depresi pascapersalinan—masalah yang lebih serius dan butuh perawatan—dan dokter atau bidan bisa memberikan rujukan dalam mencari bantuan. Jika Mama merasa bahwa Mama mungkin akan menyakiti diri sendiri atau bayi Mama, atau jika Mama merasa tidak mampu merawat si kecil, carilah bantuan profesional secepatnya.

RAHASIA SPERMA SEHAT DAN SUBUR

Menurut Institut Kesehatan Nasional Amerika, 15% pasangan mengalami kesulitan untuk punya anak dan sepertiganya bersumber dari masalah pada sperma. Ashok Agarwal, PhD, Kepala Depertemen Kesehatan Reproduksi di Cleveland Clinic menjelaskan, perubahan gaya hidup bisa meningkatkan peluang laki-laki untuk memiliki anak. Berikut ini empat tips dari Dr. Agarwal agar sperma jauh lebih sehat.

1. Konsumsi makanan kaya antioksidan. Studi yang dipublikasikan di Jurnal Fertility and Sterility menemukan, lelaki yang rutin makan buah dan sayur kaya antoksidan memiliki sperma yang sehat daripada mereka yang mengonsumsi daging dan olahan susu berlemak.

2. Rajin berolahraga. Dalam satu kali ejakulasi, lelaki mengeluarkan 15—150 juta sperma. Untuk memaksimalkan jumlah sperma yang keluar, Dr. Agarwal menyarankan Papa lebih banyak berolahraga, tetapi jangan terlalu ekstrem. Ilmuwan di Harvard menemukan, lelaki yang lebih rajin berolahraga memiliki 33% lebih tinggi dalam jumlah sperma yang dikeluarkan saat ejakulasi dibandingkan mereka yang kurang berolahraga. Hal ini disebabkan, olahraga membantu pembakaran lemak dan meningkatkan hormon testosteron.

Baca Juga : Tes Toefl Jakarta

3. Kurangi penggunaan ponsel. Siapa sangka, penggunaan smartphone yang berlebihan bisa berakibat menurunkan kecepatan sperma. Studi di Cleveland Clinic menyebut, lelaki yang menggunakan smartphone terlalu lama akan menurunkan keaktifan dan kecepatan sperma. Hal ini disebabkan gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh smartphone

4. Hindari penggunaan pelumas buatan. Pelumas memang cocok dipakai untuk mempermudah proses ejakulasi, tetapi hal ini juga berdampak buruk pada sperma. Sebuah penelitian di Australia menyebutkan, beberapa merek pelumas bisa mengurangi kesempatan sperma membuahi sel telur sebanyak 72%. Jadi, berhati-hatilah dalam memilih pelumas mengingat kandungan kimianya bisa meracuni sperma