Agar Tak Kesepian di Era Digital

Apakan Mama dan Papa ter masuk orangtua generasi milenial? adalah sebutan lain bagi The millenialsGenerasi Y, generasi awal digital native yang lahir di rentang 1977 hingga 1997. Orangtua milenial masih sempat menikmati beberapa permainan tradisional di masa kecilnya. Iya, kan? Dan sudah mulai mengenal teknologi informasi ketika beranjak dewasa. Generasi Y inilah yang melahirkan Gen-A, generasi yang lahir saat teknologi informasi sudah sedemikian masifnya. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Gen-A memiliki ciri khas. Salah satunya, mereka lahir di tengah kepungan teknologi informasi.

Karena itulah menjadi orangtua bagi Gen-A memiliki tantangan tersendiri. Gen-A dalam hitungan sebentar saja, dapat menguasai teknologi canggih. Semakin disodori gadget, tentu mereka akan semakin senang. Inilah yang juga perlu dikritisi. Jangan sampai gadget menjadi “perwakilan” orangtua dalam mengasuh anak. Di saat kita sibuk, enggak mau diganggu anak, si kecil langsung kita sodori gadget. Atau kalau anak rewel, obat penawarnya adalah film kartun yang di-download di smartphone. Ini bukan solusi yang baik. Dikhawatirkan, akses informasi yang demikian terbuka memudahkan anak untuk membuka konten apa saja. Meski telah diupayakan pemblokiran, selalu saja ada celah untuk bisa masuk ke area terlarang, misalnya pornografi.

Baca Juga : Kursus IELTS Jakarta

PERLU KONSISTEN

Psikolog Gisella Tani Pratiwi melihat kelekatan Gen-A pada teknologi informasi ini sebagai dua sisi mata koin, bisa menjadi sisi positif dan negatif. “ Sepanjang ada pengawasan dari orangtua, banyak hal positif yang bisa kita manfaatkan dari teknologi ini, ” ujarnya. Menurut Gisella, orangtua milenial harus konsisten dalam menerapkan rambu-rambu pemakaian gawai pada anak Gen-A. “Kalau usianya masih 2 tahun ke bawah, saya setuju sekali untuk tidak dikenalkan dengan gadget. Jangan sampai anak jadi tidak tertarik di luar yang elektronik. Karenanya, stimulasi lain harus ada. Kalaupun anak sudah lebih besar, orangtua juga jangan cuma menyodorkan gadget, lalu anak ditinggal. Perlu ada pedampingan pada anak dalam menggunakan sarana teknologi. Sekali lagi, jangan langsung memberikan sebagai alternatif pengasuhan. Kalau anak sedang bosan, doronglah untuk melakukan hal-hal kreatif yang bisa ia lakukan sendiri.”

DORONG SOSIALISASINYA

Salah satu poin penting dalam pengasuhan anak di era digital adalah mendorong anak untuk terus bersosialisasi di dunia nyata. Sebuah penelitian menyebutkan, Gen-A yang melek digital dan teknologi, diklaim lebih pintar dan cerdas dalam bidang akademis dan proses kreatif. Tetapi, anak-anak Gen-A diprediksi mengalami masalah kesepian lantaran jumlah saudaranya lebih sedikit, lebih banyak berinteraksi melalui teknologi, cenderung cuek bahkan bisa mengarah ke antisosial. “Itu sebabnya, anak perlu dihindari dari perilaku terpaku hanya pada gadget. Saya menyarankan, untuk usia balita, janganlah dulu diperkenalkan dengan internet. Tapi memang agak sulit karena sekarang ini malah anak-anak balita senangnya nonton YouTube.

Televisi sudah tidak diandalkan lagi. Solusinya, ya, ketika anak sudah mulai mengonsumsi internet, beri contoh penggunaan yang bijak. Yang jelas, porsinya harus seimbang dengan kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya non-elektronik,” saran Gisella. Psikolog ini menyarankan orangtua agar anak-anak Gen-A didorong untukmelakukan sosialisasi sederhana. Misalnya, bermain dengan anak tetangga, berkunjung ke rumah saudara, menginap di rumah sepupu, dan sebagainya. Sosialisasi di dunia nyata punya manfaat, setidaknya mengurangi kemungkinan anak terpapar intimidasi orang dewasa di internet. Menurut survei ini, anak-anak dan remaja memang menjadi sasaran empuk kejahatan online. “Makanya, sangat tidak bijak hanya membiarkan anak melulu di depan komputer atau gadget. Mereka justru harus didorong untuk beraktivitas lain, seperti bermain di luar, atau bersosialisasi dengan teman.”

Mengasah kemampun bersosialisasi juga sekaligus mengasah emosinya. Misalnya, bagaimana bersikap ketika menghadapi teman yang jahil. Bersosialisasi juga mengurangi anak untuk tidak terlalu banyak berkutat dengan teknologi sehingga aktivitasnya jadi seimbang. Bila memungkinkan, libatkan Gen­A pada suatu komunitas kegiatan sehingga semua kemampuannya terasah baik komunikasi, sosialisasi, dan emosi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *